Minggu, 29 Maret 2009

AWAS, STROKE BISA MENGENAI SIAPA SAJA !


Serangan stroke sulit diprediksi dan datangnya selalu mengejutkan.
Salah satu faktor risikonya, yakni hipertensi, yang sebetulnya sangat bisa dikontrol. Dengan cara itu stroke dapat dicegah. Bagi yang telanjur kena, masih ada jalan untuk memelihara kualitas hidup dan menangkal serangan ulang.
Bangun tidur, Permana (51 tahun) merasa lengan dan tungkai kirinya lemas, tak bisa digerakkan. Ia berusaha teriak memanggil istrinya, namun tak kuasa. Suaranya mendadak parau, lidahnya kelu. Ia tergolek saja, nyaris tak bergerak.
Itu gambaran klasik stroke komplet akibat terbentuk sumbatan (trombotik) pada salah satu pembuluh darah otak di sisi kanan. Stroke jenis ini tergolong sudah selesai dan tidak bakal berkembang lebih lanjut.

Serangan tersebut bisa mengenai siapa pun, terutama mereka yang berusia 40 tahun ke atas. Dalam beberapa kasus, stroke bahkan menyerang kalangan yang berusia lebih muda.
“Saat ini tambah banyak saja orang muda yang terserang stroke,” ungkap Dr. S. Wiryanto dari Tugu Medical Centre, Jakarta.

Kasus Meningkat

Tahun 1998 stroke merupakan penyebab utama kecacatan dan penyebab kematian nomor dua di dunia, dengan lebih dari 5,1 juta angka kematian.
Perbandingan angka kematian itu di negara berkembang dengan negara maju adalah lima banding satu. Juga tercatat lebih dari 15 juta orang menderita stroke nonfatal.
Pada tahun 2020 diperkirakan 7,6 juta orang akan meninggal karena stroke. Peningkatan tertinggi akan terjadi di negara berkembang, terutama di wilayah Asia-Pasifik. Di Indonesia, tambah Dr. Wiryanto, terjadi sekitar 800-1.000 kasus stroke setiap tahunnya.

Salah satu penyebab meningkatnya kasus penyakit pembuluh darah, seperti jantung dan stroke, adalah kurangnya kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat. Meningkatnya usia harapan hidup, kemajuan di bidang sosial ekonomi, serta perbaikan di bidang pangan, tidak dibarengi dengan kesadaran tersebut. Sebaliknya, masyarakat kita sejak usia muda dimanjakan dengan gaya hidup sembarangan.

Stroke secara medis merupakan serangan otak. Padahal kita tahu, otak adalah organ yang paling penting karena peranannya dalam hampir semua kegiatan yang dilakukan oleh tubuh manusia.
Kegiatan-kegiatan itu mencakup bergerak, merasa, berpikir, berbicara, emosi, berkhayal, membaca, menulis, berhitung, melihat, dan mendengar. Tugas yang beraneka ragam itu masing-masing dikerjakan dengan koordinasi yang kompleks dari bagian-bagian otak.

Untuk dapat melakukan pekerjaannya dengan baik, otak membutuhkan oksigen dalam jumlah besar. Walaupun berat otak hanya 2,5 persen dari berat tubuh, 70 persen oksigen dan bahan gizi yang masuk ke tubuh, digunakan oleh otak. Berbeda dengan otot, otak tidak mampu menyimpan zat gizi. Agar dapat bekerja terus, ia harus senantiasa mendapat pasokan oksigen dan gizi melalui aliran darah.

Timbunan Lemak

Gangguan suplai darah dapat membuat bagian-bagian otak tidak mampu bekerja maksimal, atau malah mengalami kerusakan.
Bila suplai oksigen terputus selama 8-10 detik saja, bakal terjadi gangguan fungsi otak. Bila lebih lama dari 6-8 menit, bisa terjadi jejas (luka) yang tidak dapat pulih (irreversible), bahkan bisa berakhir dengan kematian.

Menurut Dr. Wiryanto yang lulus dari Universitaet Koeln, Jerman ini, bila bagian yang berpartisipasi dalam fungsi bicara terganggu, penderitanya menjadi tidak mampu berbicara atau pelo. Demikian juga bila bagian-bagian lain yang terganggu, dapat mengakibatkan penderitanya menjadi lumpuh separo badan dan lain sebagainya.

Kelainan yang terjadi akibat gangguan peredaran darah di otak dibagi atas dua, yaitu iskemik (stroke nonhemoragik) dan perdarahan (stroke hemoragik). Kedua keadaan ini dapat terjadi bersamaan.

Pada iskemik, sekitar 80 persen stroke disebabkan oleh aterosklerosis atau menumpuk dan mengerasnya lemak yang mengandung kolesterol (plak) dalam pembuluh darah. Pertumbuhan plak membuat dinding dalam arteri menjadi kasar. Permukaan yang tidak rata tersebut dapat menimbulkan perputaran aliran darah di sekitar timbunan bagai sebuah batu besar di tengah aliran sungai deras yang bisa memicu terbentuknya gumpalan.

“Biasanya hal ini terjadi karena terganggunya pasokan darah sesaat. Sewaktu serangan ini tubuh secara alami mengeluarkan enzim yang akan melarutkan gumpalan itu dengan cepat dan memperbaiki aliran darah,’’ papar Dr. Wiryanto.

Sementara itu, perdarahan atau hemoragik terjadi bila salah satu pembuluh darah di otak bocor atau pecah. Darah yang keluar dari pembuluh yang bocor itu kemudian mengenai jaringan otak sekitarnya, sehingga menimbulkan kerusakan. Selain itu, sel-sel otak pada bagian lain dari bocoran atau pecahan itu juga akan mengalami kekurangan darah dan kerusakan.

Pemicu stroke hemoragik adalah pembengkakan di salah satu bagian pembuluh darah yang lemah. Kelemahan itu bisa disebabkan faktor bertambahnya usia, keturunan, dan tekanan darah tinggi (hipertensi).

Meski kasusnya lebih sedikit dibandingkan stroke iskemik, hemoragik sering mengakibatkan kematian. Biasanya sekitar 50 persen kasus stroke hemoragik akan berujung kematian, sedangkan pada stroke iskemik hanya 20 persen.

Kontrol Risiko

Usaha terbaik untuk mencegah serangan stroke adalah menyingkirkan faktor risiko. Terutama bagi mereka yang memiliki tekanan darah tinggi, penyakit jantung, transien iskemik (gangguan pasokan darah sesaat), diabetes mellitus, kolesterol darah tinggi, dan kebiasaan merokok.

Beberapa faktor risiko yang tak mungkin dikendalikan di antaranya riwayat keluarga atau keturunan, usia, jenis kelamin (pria lebih berisiko), dan ras. Ras kulit hitam memiliki kecenderungan lebih tinggi daripada ras lain.

Secara umum serangan stroke ditandai adanya rasa lemah atau mati rasa mendadak pada wajah, lengan, dan kaki, tiba-tiba kehilangan penglihatan atau gelap, kabur terutama di salah satu mata, dan sebagainya. Karakter serangan stroke yang biasanya mendadak, memberi gambaran bahwa tidak selamanya faktor kecenderungan itu ditandai gejala yang mudah dipantau sebelumnya, seperti halnya sakit demam.

Usaha yang paling masuk akal untuk menghindari risiko maut ini adalah menerapkan gaya hidup sehat. Alangkah baiknya jika pola makan sehat dan olahraga dilakukan sejak usia muda.

Bagi mereka yang telanjur menderita stroke tentu harus segera mengubah pola hidup guna mengontrol faktor risiko. Sejauh ini cara medis untuk penanganan stroke adalah dengan operasi dan penanganan secara holistik yang melibatkan berbagai disiplin ilmu kedokteran.

“Penggunaan jenis obat tertentu ternyata memiliki efek positif dan cukup memberikan perbaikan berarti kepada pasien stroke. Bagi mereka yang tidak terserang tentu membantu menjaga kesehatan dinding pembuluh darah,’’ ujar Dr. Wiryanto yang banyak menangani pasien stroke berat ini.

Olahraga khusus, menjaga asupan makanan, menjauhkan diri dari stres, juga konsumsi suplemen sebagai alternatif, dapat dilakukan pasien stroke untuk meningkatkan kualitas hidup serta mencegah serangan berulang. Selain terus berusaha mengontrol faktor risiko dan menjalani terapi medis.

Perhatian dan kasih sayang dari orang terdekat juga sangat dibutuhkan pasien stroke. Ini merupakan obat alami yang akan menumbuhkan semangat dalam diri pasien, sehingga dapat menikmati kehidupan selanjutnya. @ Lalang Ken Handita

Mengenali Gejala

Usaha mengenali tanda-tanda atau gejala stroke sangat penting untuk memastikan penderita mendapatkan perawatan lebih cepat dan tepat, sekaligus menghindari kefatalan.

Berikut ini beberapa gejala stroke:

Stroke sementara (Sembuh dalam beberapa menit/jam):

1. Tiba-tiba sakit kepala.
2. Pusing, bingung.
3. Penglihatan kabur atau kehilangan ketajaman. Ini bisa terjadi pada satu atau dua mata.
4. Kehilangan keseimbangan (limbung), lemah.
5. Rasa kebal atau kesemutan pada satu sisi tubuh.

Stroke ringan (Sembuh dalam beberapa minggu):

1. Beberapa atau semua gejala di atas.
2. Kelemahan atau kelumpuhan tangan/kaki.
3. Bicara tidak jelas.

Stroke berat (Sembuh atau mengalami perbaikan dalam beberapa bulan atau tahun. Tidak bisa sembuh total):

1. Semua/beberapa gejala stroke sementara dan ringan.
2. Koma jangka pendek (kehilangan kesadaran).
3. Kelemahan atau kelumpuhan tangan/kaki.
4. Bicara tidak jelas atau hilangnya kemampuan bicara.
5. Sukar menelan.
6. Kehilangan kontrol terhadap pengeluaran air seni dan feses.
7. Kehilangan daya ingat atau konsentrasi, perubahan perilaku, misalnya bicara tidak menentu, mudah marah, tingkah laku seperti anak kecil.

Mendeteksi Pemicu

Faktor risiko mayor (faktor dominan):

1. Pernah terserang stroke
2. Hipertensi (tekanan darah tinggi)
3. Penyakit jantung
4. Sudah ada manifestasi aterosklerosis secara klinis (gejala-gejala pengerasan pembuluh darah), gangguan pembuluh darah koroner, gangguan pembuluh darah karotis, klaudikasio intermiten (nyeri yang hilang timbul), denyut nadi perifer tidak ada, dan lain-lain.
5. Diabetes mellitus (kencing manis)
6. Polisitemia (banyak sel-sel darah)

Faktor risiko minor:

1. Kadar lemak darah yang tinggi
2. Hematokrit tinggi
3. Merokok
4. Kegemukan (obesitas)
5. Kadar asam urat tinggi
6. Kurang gerak badan atau olahraga
7. Fibrinogen (protein plasma darah) tinggi.

Sumber:
http://www.kompas.com/kesehatan/news/0402/28/191932.htm
30 Maret 2009

Sumber Gambar:
http://www.cyberforums.us/upload/out.php/i3103_stroke.jpg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar